Jumat, 30 November 2012

Tugas Feature


Beragam Rasa Roti Kehidupan 
Wanita Pedagang Roti



TANGERANG – Melihat seorang pedagang roti keliling yang adalah laki-laki sepertinya sudah menjadi hal yang biasa. Namun, bagaimana bila kita melihat seorang perempuan harus mengendarai motor yang ditumpangi oleh kotak kaca penuh dengan roti? 

Inilah yang dilakukan oleh Anisa. Sejak tiga tahun lalu, ia memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan berjualan roti keliling di beberapa komplek yang berada di daerah Tangerang, Banten. Keputusannya ini bukan tanpa alasan. Pada 2009 silam, dengan tekad bulat ia bermigrasi ke Jakarta untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Namun, ketika itu kenyataan berkata lain. Anisa gagal dalam tes untuk masuk universitas yang diinginkannya sehingga ia berencana untuk mendaftar kembali pada tahun berikutnya. Dalam kesenggangan waktunya, ia memiliki pemikiran untuk mengisi waktu luangnya dengan berjualan roti keliling. “Aku bosen di rumah, jadi aku tiba-tiba kepikir untuk jualan roti aja. Lagian kakakku dua orang jadi pemegang agen roti,” ucapnya sambil mengenang kejadian beberapa tahun lalu.

Ketika itu, bungsu dari tujuh bersaudara ini sama sekali tidak merasa malu dengan pekerjaannya sebagai tukang roti keliling yang lazimnya dikerjakan oleh laki-laki. Toh pekerjaan ini hanya untuk mengisi waktu luang sebelum kuliah, begitu pikirnya. Namun di luar dugaan suatu musibah datang. Ibunya yang lebih dulu tinggal di Jakarta, divonis mengalami kanker usus yang cukup parah hingga akhirnya meninggal pada Maret 2010. Anisa yang kala itu masih berusia 19 tahun, tidak siap menerima kepergian sang ibu. Aktivitasnya sebagai tukang roti keliling pun terbengkalai sampai beberapa bulan setelah kepergian ibunya.

Harapan Anisa untuk kuliah pupus sudah. Dengan ekonomi keluarga yang berantakan karena harus membiayai pengobatan sang ibu sebelum meninggal, ditambah penghasilan ayahnya yang tak pasti, serta hutang yang belum terbayarkan, tentunya tidak memungkinkan baginya untuk tetap kuliah. Anisa memaksa diri untuk bangkit. Ia kembali pada pekerjaannya untuk berjualan roti keliling dengan niat yang berbeda dari sebelumnya. Kini ia bukan lagi berjualan untuk mengisi waktu luang, namun untuk menyambung hidupnya. “Sekarang aku jualan roti bukan karena iseng lagi, tapi aku setiap hari harus mikir besok mau makan apa. Makanya sekarang aku harus jualan,” ucap gadis berusia 21 tahun ini. Keperluan sehari-hari yang biasa dibiayai orang tua, kini harus dibiayai sendiri dari hasil berjualan rotinya.

Rasa malu yang ada harus dipendamnya dalam-dalam dan dalam hati ia lebih memilih untuk mensyukuri rezeki yang masih diterimanya hingga saat ini.  “Malu ya malu, teman SMA dulu pada kuliah. Tapi mau gimana lagi. Aku bersyukur aja untuk rezeki yang ada,”katanya seraya tertawa menutup pembicaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar