UTS Creative Thinking
MENGUPAS
PERKEMBANGAN BISNIS SIOMAY PINK
Perkembangan bisnis
kreatif akhir-akhir ini berkembang sangat pesat di Indonesia,
salah satunya di Jakarta. Bisnis kreatif menjadi salah satu strategi untuk bertahan di tengah kesulitan ekonomi yang tidak stabil, sekaligus menjadi pilihan untuk pengembangan karir dan menciptakan lapangan kerja untuk mereka yang pengangguran.
Salah satu bisnis kreatif di Jakarta yang pernah menjadi pusat perhatian adalah Simpay Pink. Sebenarnya kemunculan Siomay Pink sudah dipublikasikan melalui televisi sejak tahun 2011. Namun sejak kemunculannya saat itu di televis, Siomay Pink tidak lagi terdengar kabar perkembangannya.
Bagaimana awal mula keberadaan Siomay Pink dan Bagaimana perkembangannya hingga saat ini?
Pak
Yono merupakan seorang mantan miliader pemilik Siomay Senayan yang kembali
menjadi seorang pedagang siomay keliling. Untuk
kembali bangkit, dan berharap dapat bertemu dengan kedua putrinya, Pak Yono
menarik perhatian pembeli dengan cara berpenampilan eksentrik, yakni menggunakan
atribut serba berwarna pink. Dan
ternyata cara ini berhasil memperoleh banyak pembeli, dan bahkan Pak Yono
menjadi maskot CFD (Car Free Day / Hari Bebas Kendaraan) di Jakarta.
Pak
Yono bernama lengkap Sriyono, lahir pada 21 Juli 1954 di Klaten. Pada
tahun 1969 pak Yono merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil.
Kegemarannya akan siomay membuatnya bertekad untuk mempelajari cara membuat
siomay dengan bekerja kepada seorang pedagang siomay keturunan Tiongkok
asal pulau Bangka. Setahun
lamanya pak Yono bekerja tanpa bayaran.
Saat
pengusaha tersebut meninggal, pak Yono mengambil alih usaha siomaynya karena
pengusaha tersebut tidak memiliki ahli waris. Pada
tahun 1980-an pak Yono memberanikan dirinya untuk berdagang usaha siomay
keliling melalui cara berpatungan dengan teman-temannya.
Usahanya
kemudian berkembang dengan pesat, mulai dari armada sepeda siomay keliling,
kemudian mampu membuka warung dan puncaknya pada tahun 1996 berhasil membuka
outlet di mall elit Plaza Senayan, Jakarta.
Pak
Yono merupakan pendiri dan pemilik Siomay Senayan dengan beberapa cabang. Di
puncak kesuksesannya, pak Yono mampu meraih omzet hingga Rp 2 milyar pertahun.
Pada April 1999 pak Yono mengakhiri masa lajangnya dan menikahi putri seorang
polisi. Sayangnya pernikahan ini awal dari kegagalan bisnis pak Yono. Sebab
pernikahannya tidak direstui oleh orang tua sang istri. Berbagai macam
pertengkaran terus bermunculan sehingga menyita waktu pak Yono dalam mengurus
bisnisnya. Manajemen bisnisnya pun akhirnya kolaps. Akhirnya memaksa pak Yono
menjual hak paten Siomay Senayan.
Di
tahun 2004 setelah menjalani pernikahan sekitar 4 tahun 7 bulan dan memiliki 2
anak, pak Yono akhirnya bercerai dengan istrinya. Sang istri kemudian membawa
kedua putrinya, Peksi Safira Miradalita
(lahir 9 / 9 / 99) dan Pramesti Dewi Angelita (lahir 15 / 12 /
00).
Bangkrut
dan bercerai, pak Yono tidak memiliki apa-apa lagi, dia kemudian menumpang
hidup dari masjid ke masjid ataupun halte bus, sebelum kemudian ditampung oleh
rekan-rekan bisnisnya.
Pada
awal tahun 2010, seorang jamaah masjid yang dia singgahi memberikan dia modal
usaha sebesar Rp 1 juta untuk bangkit. Lantas pak Yono kemudian membuka kembali
outlet di Pasar Raya (Blok M) dengan nama "Maestro Siomay Senayan". Namun usahanya kembali gagal, disebabkan
pemilihan lokasi yang tidak strategis. Hingga saat ini pak Yono masih memiliki
hutang sebesar Rp 13 juta kepada manajemen Pasar Raya.
Sebulan
sebelum bulan puasa tahun 2010 pak Yono kembali ke konsep awal, yakni berjualan
siomay menggunakan sepeda dan berpenampilan eksentrik dengan menggunakan
atribut serba pink sebagai brand image.
Diharapkan
dengan berpenampilan eksentrik, dirinya akan dapat menarik perhatian pembeli
sekaligus kedua buah hatinya. Saat ditanya kenapa bersikeras berjualan siomay
dengan menggunakan warna pink? Pak Yono menjawab, "Warna pink merupakan
warna favorit putri sulung saya. Dan dengan diberitakan oleh media, saya
berharap dapat bereuni dengan mereka."
Pak
Yono juga memanfaatkan momentum event yang menarik banyak pengunjung seperti Car
Free Day yang berlangsung sebulan sekali di jalan protokol Jakarta. Tidak
butuh waktu lama, pak Yono menjadi maskot CFD. "Semakin banyak orang
yang kenal saya, kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak saya semakin
besar, " katanya.
Perjuangan
pak Yono untuk bertemu kembali dengan kedua putrinya tidak mudah. Selama
berjualan pak Yono sering diledek sebagai seorang waria yang berjualan siomay
pada siang hari dan ‘buka praktik’ pada malam hari.
Saat
ini pak Yono telah memiliki 34 kaus pink, 18 pasang sandal pink, 12 topi pink,
3 jam pink, 3 pasang kacamata pink, kalung pink braces, anting-anting pink, dan
tiga pasang sepatu pink untuk mendukung usahanya berjualan siomay.
Akhirnya
usahanya tampil eksentrik membuahkan hasil. Dirinya mulai menjadi bahan
pembicaraan di Twitter dan Blackberry Messenger. Popularitasnya semakin
meningkat saat kisahnya dipublikasikan di forum Kaskus. Pada pertengahan
Desember 2010, harian Bahasa Inggris ibukota, The Jakarta Globe, menampilkan
fotonya dengan memakai atribut pink. Hasilnya pada awal Januari 2011, televisi
swasta TV One pada acara ‘Coffee Break’ berhasil mempertemukan pak Yono
dengan kedua putrinya. "Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya
bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah
tiri warga Inggris yang kaya," ujar pak Yono.
Berkat penampilannya di
televisi, sekarang usaha pak Yono meningkat tajam. Dari biasanya Rp 200 ribu
sehari, sekarang telah meningkat menjadi Rp 1 juta sehari. Pada pertengahan
Januari 2011 seorang pengusaha menawari pak Yono membuka franchise Yo Pink di
beberapa lokasi di jakarta. Bahkan ada yang menawari pak Yono bermain sinetron.
Pak
Yono kemudian menyatakan sekarang dirinya berencana meneruskan usahanya
berjualan dan membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Pak
Yono ingin fokus berjualan siomay Yo Pink dan membuat bangga kedua putrinya.
"Saya akan bangkit demi putri-putri saya," ujarnya lantas
tersenyum.
2. Perkembangan Bisnis Siomay Pink
Siomay Pink yang pada awalnya hanya usaha individu dari seorang Pak Sriyono, sekarang tidak lagi miliknya secara pribadi. Kita dapat menemui beberapa outlet siomay ini di beberapa lokasi yang bukan hanya di Jakarta.
Ketika
saya menemui salah seorang owner dari outlet Siomay Pink bernama Bapak Heru
Misanto, beliau memberikan saya berbagai informasi mengenai kejelasan dari
perkembangan Siomay Pink saat ini.
Pada
saat ini ada beberapa owner yang memiliki brand Siomay Pink. Tidak lebih dari
sepuluh orang owner menjadi pengembang dari brand tersebut. Awalnya Bapak Heru
sebagai orang pertama yang mempunyai ide untuk turut bekerja sama dalam bisnis
siomay pink.
Ia
membuka outlet perdananya dengan mendapat pasokan siomay dari sang pencetus
brand Siomay Pink yakni Pak Sriyono. Namun, dua bulan setelah Bapak Heru
bergabung terdapat berbagai komplain dari konsumen mengenai kualitas siomay dan
tidak terdapatnya manajemen penjualan yang baik membuat Bapak Heru memutar otak
lagi agar tetap bisa berada dalam bisnis ini.
Akhirnya
Bapak Heru bernegosiasi dengan Pak Sriyono dan terjadi kesepakatan untuk
membeli wilayah dan brand tersebut, sedangkan posisi Pak Sriyono dalam bisnis
siomay Bapak Heru hanyalah sebagai maskot.
Dengan
dibelinya brand tersebut oleh Bapak Heru, maka hal ini membuka peluang bagi
Bapak Heru untuk bergerak lebih bebas dalam bisnis ini. Dalam satu tahun, Bapak
Heru bisa mendirikan sekitar 7 outlet dengan outlet utama di Bintaro. Selain
itu, Bapak Heru juga memproduksi siomay dengan standar yang telah ditentukan,
baik standar kualitas maupun standar pelayanan. Oleh karena itu, saat ini
siomay dengan standar yang dibuat Bapak Heru dinamakan ‘Siomay Pink Bintaro’.
Bisnis
Bapak Heru tidak hanya sampai di situ saja, ia melebarkan sayap dengan
menggandeng pihak lain menawarkan kemitraan dalam bisnisnya. Siomay Pink tidak
disebut sebagai franchise atas permintaan pencetusnya sehingga hanya disebut
sebagai kemitraan.
Siomay
Pink Bintaro melakukan promosi terutama menggunakan jaringan internet dan
Blackberry Messenger, selain itu juga seringkali diundang di beberapa stasiun
televisi sehingga secara tidak langsung merupakan promosi gratis bagi brand
Siomay Pink.
Brand
Siomay Pink khususnya Siomay Pink Bintaro akan terus melakukan pengembangan ke
segala arah. Seperti memperbanyak mitra brand Siomay Pink, memasok produk ke
berbagai swalayan di seluruh Indonesia. Hingga saat ini sudah terdapat beberapa
outlet dengan beberapa mitra lainnya. Selain itu, Bapak Heru juga akan menebus
penjualan antar negara. Seperti diungkapkan Bapak Heru, bahwa Siomay Pink
sebenarnya sudah terkenal, jadi untuk mengembangkannya sangat mudah.
"Saya
akan membawa siomay saya dalam pameran makanan tradisonal yang setiap tahun
diadakan oleh pelajar-pelajar dari berbagai negara yang belajar di Jepang,”ucap
Bapak Heru.
Foto Bersama Bapak Heru, pemilik kemitraan Siomay Pink



Tidak ada komentar:
Posting Komentar