Selasa, 27 November 2012



UTS Creative Thinking
MENGUPAS PERKEMBANGAN BISNIS SIOMAY PINK


Perkembangan bisnis kreatif akhir-akhir ini berkembang sangat pesat di Indonesia, salah satunya di Jakarta. Bisnis kreatif menjadi salah satu strategi untuk bertahan di tengah kesulitan ekonomi yang tidak stabil, sekaligus menjadi pilihan untuk pengembangan karir dan menciptakan lapangan kerja untuk mereka yang pengangguran. 

Salah satu bisnis kreatif di Jakarta yang pernah menjadi pusat perhatian adalah Simpay Pink. Sebenarnya kemunculan Siomay Pink sudah dipublikasikan melalui televisi sejak tahun 2011. Namun sejak kemunculannya saat itu di televis, Siomay Pink tidak lagi terdengar kabar perkembangannya.

Bagaimana awal mula keberadaan Siomay Pink dan Bagaimana perkembangannya hingga saat ini?

1. Pencetus dan Latar Belakang Siomay Pink


Pak Yono merupakan seorang mantan miliader pemilik Siomay Senayan yang kembali menjadi seorang pedagang siomay keliling.  Untuk kembali bangkit, dan berharap dapat bertemu dengan kedua putrinya, Pak Yono menarik perhatian pembeli dengan cara berpenampilan eksentrik, yakni menggunakan atribut serba berwarna pink. Dan ternyata cara ini berhasil memperoleh banyak pembeli, dan bahkan Pak Yono menjadi maskot CFD (Car Free Day / Hari Bebas Kendaraan) di Jakarta.

Pak Yono bernama lengkap Sriyono, lahir pada 21 Juli 1954 di Klaten. Pada tahun 1969 pak Yono merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Kegemarannya akan siomay membuatnya bertekad untuk mempelajari cara membuat siomay dengan bekerja kepada  seorang pedagang siomay keturunan Tiongkok asal pulau Bangka. Setahun lamanya pak Yono bekerja tanpa bayaran.

Saat pengusaha tersebut meninggal, pak Yono mengambil alih usaha siomaynya karena pengusaha tersebut tidak memiliki ahli waris. Pada tahun 1980-an pak Yono memberanikan dirinya untuk berdagang usaha siomay keliling melalui cara berpatungan dengan teman-temannya.

Usahanya kemudian berkembang dengan pesat, mulai dari armada sepeda siomay keliling, kemudian mampu membuka warung dan puncaknya pada tahun 1996 berhasil membuka outlet di mall elit Plaza Senayan, Jakarta.

Pak Yono merupakan pendiri dan pemilik Siomay Senayan dengan beberapa cabang. Di puncak kesuksesannya, pak Yono mampu meraih omzet hingga Rp 2 milyar pertahun. Pada April 1999 pak Yono mengakhiri masa lajangnya dan menikahi putri seorang polisi. Sayangnya pernikahan ini awal dari kegagalan bisnis pak Yono. Sebab pernikahannya tidak direstui oleh orang tua sang istri. Berbagai macam pertengkaran terus bermunculan sehingga menyita waktu pak Yono dalam mengurus bisnisnya. Manajemen bisnisnya pun akhirnya kolaps. Akhirnya memaksa pak Yono menjual hak paten Siomay Senayan.

Di tahun 2004 setelah menjalani pernikahan sekitar 4 tahun 7 bulan dan memiliki 2 anak, pak Yono akhirnya bercerai dengan istrinya. Sang istri kemudian membawa kedua putrinya, Peksi Safira Miradalita (lahir 9 / 9 /  99) dan Pramesti Dewi Angelita (lahir 15 / 12 / 00).

Bangkrut dan bercerai, pak Yono tidak memiliki apa-apa lagi, dia kemudian menumpang hidup dari masjid ke masjid ataupun halte bus, sebelum kemudian ditampung oleh rekan-rekan bisnisnya.

Pada awal tahun 2010, seorang jamaah masjid yang dia singgahi memberikan dia modal usaha sebesar Rp 1 juta untuk bangkit. Lantas pak Yono kemudian membuka kembali outlet di Pasar Raya (Blok M) dengan nama "Maestro Siomay Senayan". Namun usahanya kembali gagal, disebabkan pemilihan lokasi yang tidak strategis. Hingga saat ini pak Yono masih memiliki hutang sebesar Rp 13 juta kepada manajemen Pasar Raya.

Sebulan sebelum bulan puasa tahun 2010 pak Yono kembali ke konsep awal, yakni berjualan siomay menggunakan sepeda dan berpenampilan eksentrik dengan menggunakan atribut serba pink sebagai brand image.

Diharapkan dengan berpenampilan eksentrik, dirinya akan dapat menarik perhatian pembeli sekaligus kedua buah hatinya. Saat ditanya kenapa bersikeras berjualan siomay dengan menggunakan warna pink? Pak Yono menjawab, "Warna pink merupakan warna favorit putri sulung saya. Dan dengan diberitakan oleh media, saya berharap dapat bereuni dengan mereka."

Pak Yono juga memanfaatkan momentum event yang menarik banyak pengunjung seperti Car Free Day yang berlangsung sebulan sekali di jalan protokol Jakarta. Tidak butuh waktu lama, pak Yono menjadi maskot CFD. "Semakin banyak orang yang kenal saya, kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak saya semakin besar, " katanya.

Perjuangan pak Yono untuk bertemu kembali dengan kedua putrinya tidak mudah. Selama berjualan pak Yono sering diledek sebagai seorang waria yang berjualan siomay pada siang hari dan ‘buka praktik’ pada malam hari.

Saat ini pak Yono telah memiliki 34 kaus pink, 18 pasang sandal pink, 12 topi pink, 3 jam pink, 3 pasang kacamata pink, kalung pink braces, anting-anting pink, dan tiga pasang sepatu pink untuk mendukung usahanya berjualan siomay.

Akhirnya usahanya tampil eksentrik membuahkan hasil. Dirinya mulai menjadi bahan pembicaraan di Twitter dan Blackberry Messenger. Popularitasnya semakin meningkat saat kisahnya dipublikasikan di forum Kaskus. Pada pertengahan Desember 2010, harian Bahasa Inggris ibukota, The Jakarta Globe, menampilkan fotonya dengan memakai atribut pink. Hasilnya pada awal Januari 2011, televisi swasta TV One pada acara ‘Coffee Break’ berhasil mempertemukan pak Yono dengan kedua putrinya. "Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah tiri warga Inggris yang kaya," ujar pak Yono.

Berkat penampilannya di televisi, sekarang usaha pak Yono meningkat tajam. Dari biasanya Rp 200 ribu sehari, sekarang telah meningkat menjadi Rp 1 juta sehari. Pada pertengahan Januari 2011 seorang pengusaha menawari pak Yono membuka franchise Yo Pink di beberapa lokasi di jakarta. Bahkan ada yang menawari pak Yono bermain sinetron.

Pak Yono kemudian menyatakan sekarang dirinya berencana meneruskan usahanya berjualan dan membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Pak Yono ingin fokus berjualan siomay Yo Pink dan membuat bangga kedua putrinya. "Saya akan bangkit demi putri-putri saya," ujarnya lantas tersenyum.

2. Perkembangan Bisnis Siomay Pink

Siomay Pink yang pada awalnya hanya usaha individu dari seorang Pak Sriyono, sekarang tidak lagi miliknya secara pribadi. Kita dapat menemui beberapa outlet siomay ini di beberapa lokasi yang bukan hanya di Jakarta.

Ketika saya menemui salah seorang owner dari outlet Siomay Pink bernama Bapak Heru Misanto, beliau memberikan saya berbagai informasi mengenai kejelasan dari perkembangan Siomay Pink saat ini.

Pada saat ini ada beberapa owner yang memiliki brand Siomay Pink. Tidak lebih dari sepuluh orang owner menjadi pengembang dari brand tersebut. Awalnya Bapak Heru sebagai orang pertama yang mempunyai ide untuk turut bekerja sama dalam bisnis siomay pink.

Ia membuka outlet perdananya dengan mendapat pasokan siomay dari sang pencetus brand Siomay Pink yakni Pak Sriyono. Namun, dua bulan setelah Bapak Heru bergabung terdapat berbagai komplain dari konsumen mengenai kualitas siomay dan tidak terdapatnya manajemen penjualan yang baik membuat Bapak Heru memutar otak lagi agar tetap bisa berada dalam bisnis ini.

Akhirnya Bapak Heru bernegosiasi dengan Pak Sriyono dan terjadi kesepakatan untuk membeli wilayah dan brand tersebut, sedangkan posisi Pak Sriyono dalam bisnis siomay Bapak Heru hanyalah sebagai maskot.

Dengan dibelinya brand tersebut oleh Bapak Heru, maka hal ini membuka peluang bagi Bapak Heru untuk bergerak lebih bebas dalam bisnis ini. Dalam satu tahun, Bapak Heru bisa mendirikan sekitar 7 outlet dengan outlet utama di Bintaro. Selain itu, Bapak Heru juga memproduksi siomay dengan standar yang telah ditentukan, baik standar kualitas maupun standar pelayanan. Oleh karena itu, saat ini siomay dengan standar yang dibuat Bapak Heru dinamakan ‘Siomay Pink Bintaro’.

Bisnis Bapak Heru tidak hanya sampai di situ saja, ia melebarkan sayap dengan menggandeng pihak lain menawarkan kemitraan dalam bisnisnya. Siomay Pink tidak disebut sebagai franchise atas permintaan pencetusnya sehingga hanya disebut sebagai kemitraan.

Siomay Pink Bintaro melakukan promosi terutama menggunakan jaringan internet dan Blackberry Messenger, selain itu juga seringkali diundang di beberapa stasiun televisi sehingga secara tidak langsung merupakan promosi gratis bagi brand Siomay Pink.

Brand Siomay Pink khususnya Siomay Pink Bintaro akan terus melakukan pengembangan ke segala arah. Seperti memperbanyak mitra brand Siomay Pink, memasok produk ke berbagai swalayan di seluruh Indonesia. Hingga saat ini sudah terdapat beberapa outlet dengan beberapa mitra lainnya. Selain itu, Bapak Heru juga akan menebus penjualan antar negara. Seperti diungkapkan Bapak Heru, bahwa Siomay Pink sebenarnya sudah terkenal, jadi untuk mengembangkannya sangat mudah.

"Saya akan membawa siomay saya dalam pameran makanan tradisonal yang setiap tahun diadakan oleh pelajar-pelajar dari berbagai negara yang belajar di Jepang,”ucap Bapak Heru.



Foto Bersama Bapak Heru, pemilik kemitraan Siomay Pink

      
               





Tidak ada komentar:

Posting Komentar